Potret Sinetron Indonesia yang Memprihatinkan, Toxic bagi Generasi Muda

Coga Nasional710 Dilihat

Tokoh Pemuda Serukan Tontonan jadi Tuntunan

Coganews.co.id | Muratara – Sudah berulang dan bejibun tayangan iklan dan sinetron di televisi yang sejatinya jauh dari akal sehat dan norma-norma yang hidup di masyarakat.

Melihat dari pantauan Komisi Penyiaran Indonesia (KPI) bisa kita lihat deretan program sinetron yang tidak edukatif dan tidak pantas ada Sumpah Pocong Di Sekolah, Aku Dibuang Suamiku Seperti Tisu Bekas, Mahluk Ngesot, Merebut Suami Dari Simpanan, 3x Ditalak Suami Dalam Semalam, Aku Hamil Suamiku Selingkuh, Pacar Lebih Penting Dari Istri, Ibu Jangan Rebut Suamiku, Istri Dari Neraka alias Aku Benci Istriku.

Belum lagi sinetron yang TIDAK LAYAK DITONTON seperti: Ayah Mengapa Aku Berbeda, Pashmina Aisha, ABG Jadi Manten,
Ganteng-Ganteng Serigala (GGS), Diam-Diam Suka, Sinema Indonesia, Sinema Akhir Pekan, Sinema Pagi, Sinema Utama Keluarga, Bioskop Indonesia Premier.

Menanggapi hal itu, Hesti Sarah seorang akademisi dari Bumi Beselang Serundingan menyampaikan,

Sebagai keterwakilan suara perempuan, kita menegaskan alangkah baiknya kita ciptakan self awareness bahwa tontonan harus jadi tuntunan donk.

Terkait sinetron Suara Hati Istri: Zahra yang menjadi sorotan masyarakat meskipun perannya Lea Ciarachell sudah diganti dengan Hanna Kirana. Itu diganti setelah menyulut api kecaman berbagai pihak, iya kan?

READ  The Only One! Kunjungi Batu Gajah, Apresiasi Tokoh Pemuda untuk DPRD Muratara yang Low Profile Ini

Jelas, jika kita kaji sinetron ini mengangkat tema kawin paksa dan poligami, sadis sekali memang karena pemeran karakter Zahra ini masih dibawah umur belum genap 15 tahun,
mengharuskan ia juga melakukan adegan-adegan yg tidak seharusnya melibatkan anak-anak.”

Ditegaskan juga oleh Tokoh Pergerakan Perempuan Inspiratif Muratara bahwa tayangan seperti ini tentu toxic (racun karakter) bagi generasi muda di Indonesia dan emak-emak sekalian sebagai madrasah pertama anak-anaknya, karena dalam survei rating nya emak-emak doyan sekali dengan tayangan sinetron.

Kita berharap Menko PMK, Menkominfo, Mendikbud Ristek, Menteri Agama, Men P3A, KPAI dan KPI serentak bergerak dan tegas terhadap tayangan sinetron yang ada karena ini sangat dekat dengan kehidupan sehari-hari masyarakat. Jangan didiamkan!

Di kesempatan yang berbeda Dandi Nazor, Penulis Self Development Kepemudaan memaparkan,

Bukan hanya sinetron kalau bisa iklan dan semua jenis tayangan di media sosial juga harus lebih edukatif secara keseluruhan, jangan asal mau ningkatin rating, views, like atau subscribe aja. Pesan mencerahkan anak bangsa harus dijadikan nafasnya.

Sinetron Suara Hati Istri: Zahra sebaiknya distop saja meskipun sudah diganti peran atau pembelaan lainnya, ini keterlaluan, ini preseden yang memilukan dan memalukan buat anak-anak muda!”

Lanjut Sekjen HPP Muratara ini bahwa tokoh Zahra sering mendapatkan kekerasan psikis dari pemeran pria, yang diceritakan menjadi suaminya.

READ  Asik atau Toxic, Sikok Bagi Duo, Kok Bisa...?

Kekerasan psikis itu berupa bentakan dan makian serta pemaksaan melakukan hubungan seksual dan seolah membakukan bahwa pria identik dengan kekerasan, agresif secara seksual, kekerasan, dan merendahkan perempuan.

Kita tetap optimis bahwa masih banyak tayangan sinetron dan FTV yang wajib menjadi sumber inspirasi anak-anak muda Indonesia. Remote pilihan ada di tangan kita semua. (Danaz)