Coganews.co.id | Presiden Joko Widodo beserta Menteri ESDM Arifin Tasrif dan menteri lainnnya resmi menyampaikan pengumuman bersejarah bagi segenap anak bangsa yakni kenaikan harga BBM pada Sabtu (03/09/2022).
Pengumuman penting ini sangat menyentuh hati terutama bagi para sopir angkot, driver ojek online, pejuang skripsi yang mesti bolak-balik mau nemui dosen hingga emak-emak pejuang UMKM yang setiap hari harus ke pasar supaya dapur bisa mengepul dan masih banyak lagi lainnya.
Penyesuaian harga BBM ini akan berlaku satu jam setelah pengumuman ini disampaikan, yakni berlaku pukul 14.30 WIB.
Menyoroti hal ini Dandi Nazor, CEO Sinergi Institute sekaligus pegiat media sosial menyampaikan,
“BBM naik tentu siap-siap living cost akan segera merangkak naik. Banyak yang menjerit tapi ya sudahlah ini tidak bisa dipungkiri. Ini yang membuat denyut jantung kita semua berdebar kencang, banyak hal yang harus dipikirkan.
Wait and see, biaya transportasi, logistik, akan meningkat dan akan mendorong kenaikan biaya-biaya lainnya.
Ini juga secara tidak langsung akan mendorong anak-anak muda semakin mager untuk melakukan hal-hal yang produktif, tempat-tempat wisata akan sepi pengunjung dan BBM lah, Banyak-Banyak Mengirit akan jadi obsesi.”
Lanjut oleh Pengurus Badko HMI Sumbagsel dan Penulis Milenial Improvement ini bahwa, kenaikan BBM juga bisa menyebabkan harga mahar juga naik lantas tuntutan hidup di masa depan akan melambung tinggi apalagi dipisah oleh ruang dan jarak yang cukup menguras energi, sudah dipastikan harapan untuk bahagia bersama jangan sampai hanya angan-angan tiada arti.
Banyak juga pengamat ekonomi ini akan mendorong ke inflasi, boleh jadi.
Seperti analisa Pengamat Ekonomi dari Universitas Gajah Mada, Fahmy Radhi juga mengatakan kenaikan harga BBM juga dapat memicu inflasi dan sangat belum tepat untuk saat ini.
Seperti diketahui bersama, untuk harga-harga BBM saat ini sebagai berikut:
– Pertalite dari Rp 7.650 rupiah per liter menjadi Rp 10.000 per liter
– Solar Subsidi dari 5.150 rupiah per liter menjadi Rp 6.800 per liter
– Pertamax Non Subsidi dari Rp 12.500 per liter menjadi Rp 14.500 per liter
Pernyataan tersebut disampaikan Pengamat Energi sekaligus Direktur Eksekutif Institute for Essential Services Reform (IESR), Fabby Tumiwa.
Dampaknya adalah pengeluaran bahan bakar masyarakat akan meningkat akan menggerus daya beli masyarakat.
(Danaz)









