oleh

Wacana Joko Widodo Dicawapreskan. Benarkah ?

Coganews.co.id I Jakarta. Kamis sore kemarin, 29 September 2022 sebuah TV Nasional menayangkan Dialog Wacana Menjadikan Jokowi (Presiden RI) sekarang untuk Calon Wakil Presiden RI 2024 mendampingi Prabowo Subianto sebagai Calon Presiden RI.

Tadinya saya berpikir ini sebuah lelucon politik. Dalam tayangan tersebut ternyata komunitas yang mengusung wacana ini cukup serius. Mereka sudah mengajukan persoalan ini ke Mahkamah Konstitusi untuk dilegitimasikan dalam pandangan konstitusi.

Alasan mereka yang melatarbelakangi wacana ini adalah agar rujuk nasional kubu masing-masing pendukung di tahun 2019 dulu, saldo perpecahan ini bisa terlem, direkat kembali. Meskipun perlu diuji kembali masih sebesar apa saldo polarisasi, atau dalam bahasa yang lebih vulgar dendam politik ini. Jangan-jangan ini masih bisa dibilang, masih hanya segelintir orang.

Sebab, bukankah luka politik pendukung Prabowo-Sandi Pasca 2019 sudah tereleminir dengan kedua tokoh ini masuk ke dalam kabinet Jokowi-Ma’ruf Amin. Jika masih ada, justeru pendukung ini sudah bertebaran lari kemana-mana, karena banyak yang beranggapan kedua tokoh ini sudah mengecewakan misi perjuangan mereka sewaktu diusung mati-matian pada waktu pilpres lalu.

Kembali kepada Jokowi Dicawapreskan. Pendorong keinginan ini juga berpatokan, dalam Undang-undang hanya membatasi Jabatan Presiden cukup 2 (dua) periode. Tidak ada tekstual undang-undang itu menyebutkan melarang juga presiden menjabat tidak dibolehkan dicalonkan sebagai wakil presiden periode berikutnya.

Dalam konteks ini memang betul. Tapi perlu dipertimbangkan. Sejauh mana elektabilitas, keterpilihan secara riil di lapangan. Sebab bisa berbalik sama sekali, elektabilitasnya rendah. Sebab dengan kebijakan pemerintah sekarang yang bermuara kepada Jokowi, banyak juga kebijakan tidak populer. Sebut saja kenaikan BBM sekarang ini banyak demo protes di sana sini. Bagaimana jika di pilpres nanti pasangan ini kalah. Aduh Mak, tak enaklah. Mau dibawa kemana muka ini. Istilah Jokowi, menampar muka. Terus terang kehadiran Jokowi Dicawapreskan dengan Prabowo. Bisa jadi menjadi sebuah beban, libilitas elektabilitas.

Belum lagi bagaimana penilaian rakyat. Terkesan keserakahan kekuasaan. Masalah Jokowi tokoh terbaik bangsa. Pasti kita mungkin sepakat. Tapi apakah tidak ada calon yang berpotensi untuk menjadi tokoh terbaik bangsa. Mari kita buka keran selebar-lebarnya, kita jaring untuk mendapat penerus Jokowi orang yang mumpuni setaranya, jika tidak ada yang bisa melebihi.

Dan bila katakanlah, Pasangan Prabowo Jokowi terpilih. Apakah tidak ada beban moral keduanya. Prabowo mau menugaskan atau mengintruksikan kepada Jokowi sebagai wakil, apa tidak ada rasa kaku dan sungkan. Begitu pula Jokowi dalam merespons perintah atau instruksi tersebut. Takut cenderung diabaikan atau ditanggapi dengan dingin lantaran pernah jadi bos atau atasan Prabowo dalam Kabinet Jokowi-Ma’ruf Amin. Dalam teori ilmu politik bisa dikatakan Patronase Politik. Orang yang pernah berjasa atau pimpinannya harus selalu dihormati dan disegani.

Meskipun dalam pemerintahan sistem yang berjalan. Para menteri sebagai pembantu presiden dan wakil presiden yang akan menjalankan tugas sesuai Tupoksinya masing-masing. Tapi dikhawatirkan perjalanan roda pemerintahan tidak sehat atau tidak sempurna.

Lebih jauh dari itu. Coba kita tata sistem pemerintahan yang baik. Termasuk dalam proses penjaringan dan pemilihan Pucuk Pimpinan Perintahan berdasarkan konstitusi dan kepatutan bernegara. Jangan sampai negara kita terkesan bernuansa dagelan, akrobatik politik yang dipentaskan.

Memang pernah suatu kabupaten di daerah sumatera Selatan. Bupati yang sedang manggung dan periode selanjutnya dicalonkan sebagai wakil Bupati. Betul terpilih. Biarkan, ini dalam skup kecil. Tingkat regional. Masa ini yang harus kita contoh. Berarti kita mundur ke belakang.

Kita yakin, syahwat politik Jokowi tidak bergeming dengan lelucon politik ini yang ditawarkan kepadanya. Sudah berapa kali beliau mengeluarkan statement di media televisi, tak bersedia dicalonkan kembali. Semoga.(Azkar Badri)

Berita Lainnya