Palembang| Coganews.co.id-Oleh Ahmad Himawan
Dosen Tasawuf
Fitrah manusia adalah cinta dengan keadilan, dan benci dengan kedholiman. Keadilan berasal dari kata ‘Adl yang berarti Keadaan Tengah, antara dua ekstrem ( Ifraat) Kekurangan dan Keberlebihan/Keterlaluan ( Tafriit ). Maka Adil adalah sumber segala kebaikan (
‘Adl vs Fujur
‘Adl junudul aqal , fujur junudul jahl).
Dalam kitab Junuduul ‘aqal wal jahl karya Imam al khumaini mengatakan, untuk mencapai keadilan itu harus terlebih dahulu menyeimbangkan 4 potensi yang terdapat dalam diri manusia, yaitu 2 potensi berdimensi manusiawi dan 2 potensi yang bersifat hewani.
Dua yang pertama yaitu Akal Teoritis (Kebijaksanaan) dan Akal Praktis ( aturan dan perbuatan yang berdasarkan ilmu pengetahuan). Sedangkan dua yang lainnya yaitu Ammarah dan Syahwat ( yang sudah disucikan ). Maka akan lahirlah sebuah keseimbangan. Keadilan akan mudah terjadi jika hal ini sudah seimbang.
Bagaimana cara mencapai keutamaan keadilan tersebut.
Setiap manusia berkeinginan mencapai kesempurnaan, termasuk Keadilan.
Keadilan berharap muncul dari diri sendiri terlebih dahulu, karena seorang yang tidak memiliki sesuatu tentu tidak akan bisa memberi kepada orang lain tentang sesuatu itu. Jadi keadilan itu harus berasal dari diri sendiri, kemudian baru bisa adil terhadap orang lain.
Barang siapa yang tidak bisa mecapai keadilan diri sendiri maka dia akan mengalami kerugian yang besar, ibarat sebuah negara akan mengalami kerugian besar jika tidak ada keadilan didalamnya. Dan kerugian tersebut tidak bisa diperbaiki dengan mudah, apalagi di akherat nanti. Selagi masih di dunia semua bisa diperbaiki.
Menurut Khumaini, sifat adil ini sangat bisa dan mudah dilakukan ( di didik) pada saat usia dini. Karena fitrah manusia pada waktu muda masih bercahaya. Begitu juga halnya dengan pengetahuan.
Anak yang tidak diisi dengan kebaikan, maka ia akan cepat diisi dengan keburukan. Oleh sebab itu jika dibiarkan, ia akan mengalami kesengsaraan yang abadi. Laksana membangun kebaikan dalam akhlaq sesorang.
Keadilan itu juga adalah bagian dari akhlaq yang berasal dari jiwa yang bersih.
Menghidupi jiwa itu bermakna menghidupkan akhlaq. Al-Qur’an mengatakan “Menghidupkan satu jiwa seakan-akan menghidupkan seluruh manusianya ”. Begitu juga sebaliknya, Membunuh satu jiwa seolah-olah kita membunuh manusia seluruhnya.
Maka dengan mendidik jiwa satu anak yang soleh sama saja akan mendidik sebagaian besar umat yang soleh. Kehilangan Pendidikan satu jiwa anak sama saja kehilangan Pendidikan satu ummat semua.
Cara tepat medidik jiwa anak harus secara praktis, atau dengan contoh dengan amaliah, akhlaqiah dari orang tua dan gurunya.
Akhlak itu jika pada awalnya dipaksa, maka lama kelamaan akan menjadi benar. Contoh, pura pura menangis saat membaca Qur’an. Lama kelamaan kebiasaan ini akan menjadi menangis sesungguhnya jika kena pada suatu Pemaknaan yang dalam.
Menurut Khumaini juga makanan yang kita bawa kerumah juga akan berpengaruh terhadap karakter yang akan terjadi di rumah kita, dan akan menjadi karakter dalam berkehidupan di tengah masyarakat.
Maka Imam Khumaini berdoa kepada Allah untuk selalu medapat taufiq agar bisa membentuk rumah tangga yang menghasilkan rumah tangga mulia.Dan bermuara akan lahir juga masyarakat mulia.
Setelah peran rumah tangga atau orangtua. Baru peran madrasah dan guru ikut berpengaruh. Tentu saja kesalehan seorang guru akan berpengaruh kepada murid / umatnya. Sebaliknya perilaku korup seorang guru akan mempengaruhi kepada murid atau umatnya.
Kita diharapkan tidak hanya menyiapkan generasi yang professional akan tetapi juga harus yang benar benar menyiapkan manusia berakhlaq mulia.
Anak muda bisa melakukan tazkiyah nafs (penyucian jiwa) sangat cepat, ibarat pohon, keburukan akan tumbuh sedikit demi sedikit dan akan sulit dicabut jika sudah besar dengan akarnya yang menghujam ke dalam. Analogi ini juga berlaku buat manusia.
Satu pohon yang ditanam sekarang, bisa dicabut sekarang. Jika dibiarkan, kelak sangat susah untuk dicabut kembali (sudah mengakar). Contoh ini dapat menganalogikan, perbuatan yang baik, atau jelek seperti khasud atau bakhil menjadi mudah jika diterapkan saat masih muda. Jika sifat sifat tersebut dibiarkan maka akan sulit di hilangkan kecuali dengan Riyadha dan Mujahadah yang begitu keras, dan bisa jadi tidak bisa diperbaiki sama sekali.
Wallhu’alam.












